Cynthia Marilyn Sitompul

Minggu, 21 Februari 2016

Rindu untuk Jaja

Dear Jaja,

Hai teman lama, apa kabarmu di sana?
Sudah lama sekali aku tidak melihat ragamu. Tapi ingatanku tentangmu tidak akan memudar, apalagi ingatan terakhirku tentangmu. Kemarin kami baru ngumpul, dan pasti tidak lupa terselip namamu. Seperti biasa, aku merasa kau hadir. Aku selalu merinding ketika membicarakanmu. Tapi sobat, kenapa begini rasanya, di satu sisi aku yakin bahwa kau sudah tenang di sana. Di sisi lain aku juga merasa, kau begitu merindukan kami. Ah, mungkin sesal dan rinduku menghambatmu ya?
Jika iya, kupastikan aku tidak akan menyesali hari itu lagi, hari dimana aku melihatmu lagi sejak kepulanganku. Aku ingin menyapamu tapi tidak kulakukan. Aku bertekad untuk menyapamu jika aku melihatmu sekali lagi. Tapi ternyata, tidak ada 'sekali lagi' itu ya, sobat! Kau tahu, sejak hari itu, aku selalu berhati-hati mengucapkan 'sekali lagi'. Sejak hari itu pula, aku selalu menghargai kebersamaan yang bisa kulalui sebab aku tau, tak selamanya raga bisa menemani.
Tapi, Ja, meski aku bisa menghapus sesalku, aku tak bisa menghapus rinduku padamu. Biarlah rindu ini yang tersisa sebab rindu ini akan membawaku untuk selalu ingat kepadamu. Rindu ini pula akan membawaku untuk menyebut namamu di dalam doaku. Ja, jangan suka bikin merinding lagi. Beristirahatlah dalam damai Tuhan. Semoga kelak kita akan berkumpul kembali bersama Bapa di surga. Amin.

-Temanmu sejak SD, Cyn-

Menyentuh Awan


Beberapa jam perjalanan darat kutempuh untuk sampai di tempat ini. Lelahku sirna ketika angin menyentuh kulitku. Syukur kupanjatkan kepada-Mu manakala kupandang ciptaan-Mu yang maha indah. Air danau saling berkejaran, di dalamnya tentu begitu dalam. Tak henti-hentinya kagum hatiku layaknya berjuta-juta pasang mata yang tak bisa melepaskan pandangannya dari tempat ini. Ini sudah kali sekian aku mengunjungi tempat ini dan mungkin selama-lamanya aku takkan jenuh memandangnya. Kisah penciptaan yang begitu agung, menyadarkan sekali lagi bahwa cinta-Mu begitu besar pada makhluk kecil ini. Aku pun melihat ke atas, terbentang tinggi gunung-Mu yang suci. Dari bawah, kulihat awan menaunginya. Pikiranku melayang, mampukah aku menaiki gunung-Mu yang suci? Layakkah aku berpijak di puncaknya yang kudus? Dapatkah aku menyentuh awannya yang putih dan lembut? Aku pun terdorong untuk mendakinya. Di akhir pendakian ini, setelah aku menyentuh awan, bolehkah aku bertemu dengan-Mu?

(Buah permenungan ketika memandang Danau Toba)

Sabtu, 20 Februari 2016

Happy Wedding, Kak Aster!

“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."

Besok.. Sebuah rumah dengan tangga akan dibangun, diolah dan dipertanggungjawabkan. Tugas suci akan diemban. Aku penasaran, bagaimana rasanya hari ini, Kak? Aku ingin sekali melihatmu mengenakan gaun putih itu. Pasti cantik sekali! Tapi maaf kak, raga belum bisa hadir di hari bahagiamu.
Kak, lewat surat ini aku panjatkan syukur, selamat dan doaku. Aku bersyukur atas persatuan yang begitu membahagiakan ini. Aku ucapkan selamat Kak, semoga semuanya dilancarkan.
Kak, bak batu karang yang dihempas air laut, aku doakan semoga rumah tangga ini selalu kokoh dan tahan uji. Semoga kalian selalu berbahagia dalam kesetiaan dan cinta kasih serta dilimpahi kekuatan hati dan penguasaan diri. Harapku, satu masa untuk seluruh hidupmu dianugerahi kebersamaan, semangat berjuang untuk kebahagiaan bersama, kemampuan menyatukan segala perbedaan, rasa saling menghargai, dan syukur atas semua kecukupan yang diberikan-Nya.
Semoga adik-adik lucu kebanggaan kalian juga segera lahir di dunia ini sehingga lengkaplah sukacita dan bahagiamu, Kak, hehe.. 
Aku akhiri suratku ini, Kak. Sekali lagi, Happy Wedding My Beautiful Sister, Asteria Bunga Indah Juniarti Sitompul!

-your little..very little cousin, cyn-

Kamis, 18 Februari 2016

Tiga Tangkai Mawar

Pernahkah kamu mendengar cerita tentang tiga tangkai bunga mawar merah?
Konon, jika seorang pria memberikan tiga tangkai bunga mawar merah kepada seorang wanita, berarti pria tersebut sungguh serius menjalani hubungan dengan wanita tersebut.
Tiga tangkai melambangkan tiga masa, yakni masa lalu, masa kini dan masa depan.
Pria tersebut ingin mengambil bagian dari masa lalu, masa kini dan masa depan wanita tersebut.

Lalu kamu.. Kenapa memberikan tiga tangkai mawar merah kepadaku?
Apa kamu tau filosofi itu sehingga sengaja membeli tiga tangkai saja?
Ataukah kamu malah tidak tahu, dan memilih tiga karena tau aku suka angka tiga?

Lalu kamu.. Kenapa memberikan tiga tangkai mawar berwarna-warni kepadaku?
Apa kamu serius ingin mengambil bagian di tiga masa hidupku?
Atau kamu hanya ingin mewarnai hidupku yang sempat kelabu?

Sungguh, aku berterimakasih telah diperhatikan..
Sungguh, aku berterimakasih karena aku begitu menyukai bunga..
Tapi maaf, memutuskan pria untuk memasuki tiga masa hidupku tidak semudah menerima tiga tangkai mawar darimu.

Rabu, 17 Februari 2016

Liebesbrief to Kakak

Dear my beautiful sister, Angeline Nathalia Sitompul..

Tidak secara kebetulan kita lahir di keluarga yang sama. Kehidupan membuatmu menjadi sesuatu bagiku. Jika kuingat masa kecil kita, mama suka beliin kita baju kembar dan bikin kita terlihat mirip. Ingat tidak rambut kita yang selalu dikuncir bak ekor kuda dulu? Teman-temanmu bilang kita mirip kayak kembar. Tapi semakin dewasa, hampir tidak ada yang bilang begitu. Padahal sampai sekarang aku merasa wajah kita masih dan akan terus serupa. Mungkin, hanya orang-orang berhati tulus yang dapat menemukan kemiripan kita. Eh? Haha..

Kak, kalau dulu aku terlalu nakal untuk jadi seorang adik, maafin aku ya kak. Ketika aku hidup jauh darimu, aku sadar bahwa aku begitu merindukan kakakku satu-satunya ini. Kak, mungkin sampai sekarang aku masih nakal padamu. Telapak kakiku sering menempel di wajahmu ketika tidur dan kau tidak mengeluh. Padahal aku belum cuci kaki pake sabun loh sebelum tidur. Hahaha kidding kak.

Kak, hari ini tes ya? Semangat ya kak. Semoga kakak lulus. Amin.

Kak, makasih ya karena telah menjagaku dari kecil hingga dewasa. Makasih juga telah menjadi teman cerita dan sahabatku. Terima kasih telah bersabar menghadapi kenakalanku. Terima kasih karena tidak mengeluh memiliki room mate seperti aku. Kak, terima kasih telah begitu waspada ketika ada yang mendekatiku dan terima kasih sudah menunjukkan kemarahanmu ketika aku tidak menurut padamu. Setiap anak perempuan pasti mendamba bertemu dengan pangerannya. Semoga Tuhan mempersiapkan jodoh terbaik buat kita ya. Semoga masa depan cerah juga terbentang luas untuk kita. Amin.

Kak, di luar hujan. Hati-hati di jalan ya kak. Aku menunggu di rumah.

-your little..very little sister, cyn-

Minggu, 14 Februari 2016

Liebesbrief to Abang

Kau adalah pahlawanku.. jagoanku.. orang yang paling bisa kuandalkan!
Ingat tidak, ketika aku diganggu teman-temanku?
Abang orang yang berdiri di depanku sehingga teman-temanku tidak berani menggangguku lagi.
Abang adalah orang yang paling kukagumi.
Aku merasa kau jago dalam hal apapun. Baru belajar langsung bisa!
Aku juga belajar berelasi dari abang! Abang orang yang paling masuk ke siapa aja, bahkan jadi kesayangan Opung haha!
Aku kagum sekali padamu. Benar-benar kagum!
Abangku, jika kau pernah menyesali satu hari dalam hidupmu.. ya saat itu.. ingatlah selalu bahwa cintaku lebih besar dari marahku.. ingatlah selalu bahwa ampunan lebih berarti daripada sakit hati.
Kini, kita sudah dewasa. Aku harap masa depan kita jauh lebih cerah dari langit cerah yang menaungi permainan masa kecil kita. 

Sabtu, 13 Februari 2016

Liebesbrief to Mom

Setiap anak perempuan pasti sering bentrok dengan ibunya. Tapi, sungguh keterlaluan apabila bentrokan tersebut sampai meneteskan air mata seorang ibu.
Aku termasuk salah satu anak yang keterlaluan itu karena masih teringat jelas senja kala aku tumpahkan air mata ibuku.
Itu yang pertama..membuatku bungkam melihatnya..
Maaf Ma.. Maaf..